Menapaki Karier di Era Millenial

Who’s millennial ?

Sampai dengan saat ini masih terjadi perdebatan pada rentang usia berapa seseorang dikelompokkan dalam generasi millennial. Australia mengelompokkan mereka lahir pada periode 1982-2000, sedangkan Amerika bilang millennial adalah kelompok umur yang lahir pada periode 1980-2000 and so on. Hingga akhirnya disepakati secara normatif, generasi millennial adalah periode kelahiran (kohort) yang lahir antara rentang tahun 1980-2000.

Sejarahnya berawal di tahun 1983, perusahaan-perusahaan di USA melihat ada gejala sosial dari anak-anak usia 12 – 13 tahun (teenager) yang berbeda perilakunya dengan generasi sebalumnya. Shortly world, akhirnya mengelompokkan generasi ini ke dalam generasi Y. Generasi ini punya banyak nama, dalam beberapa literatur istilah generasi millennial ini dikenal juga sebagai gen Y, Net generation, Echo-boomer generation, peter pan generation, boomerang generation.

Kenapa akhirnya generasi ini diberi nama millennial, hal ini tidak lain karena mereka lahir di era millennial. Era high tech dan informasi digital. Dikarenakan mereka lahir di zaman ini, karakteristik perilaku generasi millennial akhirnya menjadi sebuah budaya yang mempengaruhi cross generation lainnya. Jadi jika suatu saat bertemu dengan orang yang seumuran orang tua atau oma/opa kita yang terlihat eksis selfie atau welfie di sosmed, posting curcol-an, dan sejenisnya, harap maklum. Bukan berarti mereka regresi/mundur dalam perkembangan kepribadiannya, tapi karena mereka hidup tepat di zaman high tech & digital info dan bersama-sama dengan generasi millennial ini.

Generasi millennial memiliki beberapa karakteristik, diantara :

  1. Millennial cenderung mencari karier yang punya nilai “emotional bonding” Missal saat ini sedang trennya IT job, maka jenis pekerjaan IT yang dulu asing didengar, sekarang menjadi pekerjaan yang punya nilai emotional bond karena sedang naik daun. Misal jadi web developer, copy writer, SEO (Search Engine Optimizer), Sustainabillity manager, desainer manager, etc.
  2. Millennial juga mencari perusahaan yang punya nilai histori baik. Tidak hanya dalam nilai histori baik. Tidak hanya dalam hal reputasi, salari besar, promosi cepat dan aktualisasi diri.
  3. Para karyawan millennial mencari atasan yang juga bisa mengimbangi ‘kegape-an’ mereka dalam hal tech savy. Jadi kalau bertemu dengan atasan dari lintas generasi yang tidak tech savy, siap-siap bakal menjadi bahan ‘bully’an a-la warung kopi.
  4. Minimal syarat-syarat diatas harus masuk ke spek gen Y, kalau tidak bagaimana ? maka pada akhirnya tidak sedikit dari generasi millennial yang menjadi job hopper alias kutu loncat. Namun fenomena yang menariknya adalah belakangan job hopper menjadi profesi sendiri dan mereka dibayar mahal untuk itu. THE RULE HAS CHANGED!!!
  5. Orientasi karier millennial saat ini juga bergeser mostly menjadi entrepreneur. Jiwa yang dinamis berpadu dengan kecakapan teknis yang menjual, mendorong mereka untuk berkarier secara mandiri daripada menjadi karyawan kerah putih. Kalau kita mau telusuri profile mereka di komunitas professional Linkedln, karier para entrepreneur millennial muda ini tidak kalah keren di banding zaman ayah atau opa mereka.

Jika dulu menjadi pebisnis dimulai saat usia rambut di kelapa sudah menipis (usia 50 tahun ke atas), sekarang ini belum genap usia 25 tahun (pasca kuliah) sudah banyak yang menjadi CEO, owner, founder, etc. Mau tahu berapa banyak tenaga kerja millennial sekarang ini di Indonesia ?

Saat ini jumlah tenaga kerja millennial di Indonesia sekitar 35 persen dari total tenaga kerja yang ada (sekitar 75 mio). 6 persen diantaranya adalah pengangguran karena tidak mampu beradaptasi dengan kecepatan perubahan zaman. Saat ini eranya high digital technology. Semua orang dari lintas usia berbondong-bondong mempelajari kebutuhan untuk dapat survive di zaman ini.

Bagi para millennial yang tidak sigap bergerak, hati-hati terlindas perkembangan zaman. Apalagi jumlah millennial hingga tahun 2025 nanti jumlahnya akan mencapai 75 persen dari total populasi tenaga kerja. Artinya apa ? yes, persaingan semakin ketat. Sadar tidak sejak tahun kemaren kran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) telah di buka. So what should we do ?

Kami menganalisa ada dua fenomena yang sudah berjalan dan bisa diduplikasi. Pilihannya sederhana hanya ada dua, menjadi BOS atau KARYAWANnya. Menjadi BOS berarti membuka lapangan pekerjaan sendiri (menjadi entrepreneur) misalnya dengan membuat start up (fokusnya adalah untuk menjawab permasalahan yang ada di masyarakat). Contohnya Gojek, e-fihsery, hijup, bridestory, kudo, dll.

Bila menjadi KARYAWAN (S&K belaku), dimana harus menjadi karyawan kerah putih yang extraordinary. Level up your skill. Jangan hanya terbatas pada kurikulum sekolah/kampus/job desc. Each of us should raise up our add value. Terus menerus belajar mengenai ilmu lain yang menjadi kebutuhan zaman. Tidak peduli apakah lulusan SMK atau sarjana bahkan master atau doktor. Jika tidak dapat bersaing memenuhi tantangan zaman, maka tanpa ampun bisa tergeser dan akhirnya sekedar menjadi penonton di luar arena.

Berikan KONTRIBUSI, KERJA PROFESIONAL, dan tinggalkan REPUTASI yang baik. Ada data yang tidak kalah mencengangkan atau “kerON”. Hasil survey Forum Ekonomi Dunia terhadap 350 pemimpin senior perusahaan-perusahaan besar di 15 negara maju dan berkembang menunjukkan, sebanyak  7,1 juta pekerjaan akan menghilang akibat adanya otomatisasi di era digital technology ini. Namun seiring dengan itu akan tercipta 2,1 juta pekerjaan baru di sektor teknologi. Informasi ini bukan untuk menakut-nakuti tetapi hanya memberikan gambaran bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi era yang serba cepat berubah (volatile), tidak jelas (uncertainty), kompleks (complexity), dan Ambigu.

Ada empat jurus yang harus dimiliki oleh para millennial supaya mempunyai daya tahan dan daya saing dalam menjalani karier.

  1. Pahami diri sendiri (self understanding). Mengetahui apa bakat, minat, tujuan kontribusi kariernya. Saat ini cukup banyak tool yang dapat digunakan untuk mengukur bakat dan minat seseorang dalam hal berkarier. Mulai dari jenisnya inventory test paper & pencil hingga yang punya kosep kerON macam STIFIn ini. Setiap test mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Namun sejauh ini yang saya lakukan STIFIn yang paling pas menjawab ‘kegalauan’ karena hasil test yang terpercaya (R>0.8), culture free, tidak ada sosial desirability (kecenderungan jawaban mengikuti aturan sosial yang berlaku). Jadi yang pertama syarat mutlak dalam berkarier adalah temukan karier yang “GUE BANGET” berdasarkan hasil test FOKUS SATU HEBAT.
  2. Pahami lingkungan (environment understanding). Idenya adalah BUMBATA, buka mata buka telinga. Ikuti bagaimana perkembangan karier di era saat ini. Jangan alergi membaca berita. Selanjutnya, dapatkan social support (dukungan sosial), tidak hanya dari keluarga tapi juga dari rekan peer/komunitas yang supportif tentunya. Rajin-rajin berkunjung ke situs karier untuk tahu jenis karier apa yang sekarang sedang HITS.
  3. Jadilah kompeten (Act for competence). Ada sejumlah kompetensi yang wajib dimiliki oleh para millennial .

Satu : Komunikasi. Termasuk didalamnya digital literacy. Mulai dari etika memposting berita, memberi komentar atau menshare berita. Kata kuncinya adalah BEHAVE! Saat ini reputasi seseorang salah satunya dilihat dari bagaimana ia menggunakan medsos dalam berinteraksi. Kalau isinya curcolan melulu atau keluhan, calon atasan, atasan, investor bisnis akan males mendekatinya.

Dua : Kompetensi Team-ING. Kompetensi ini wajib dimiliki supaya karier bisa melaju cepat. Kata kuncinya : Kolaborasi. Pesaing atau competitor itu bukan musuh, tapi “hiu kecil” yang membuat kita selalu ‘alert’ dan waspada dalam menjalani karier.

Ketiga : Entreprenuership. Ini pas banger dengan psikososialnya millennial. Jadi tidak mengherankan kalau sekolah-sekolah bisnis entrepreneurship berjamuran buat anak-anak muda. Selain kompetensi ini menjadi tuntutan zaman, hal ini juga mengajarkan bagaimana millennial dapat segera hidup mandiri dan berkontribusi bagi orang lain.

Keempat : Paradigma Learn to earn. Sudah bukan waktunya lagi perilaku ‘alay’ zaman kita sekolah dibawa ke pekerjaan. Zamannya kita pakai seragam berbeda dengan saat kita berdasi.

  1. Membuat tangga karier (ladder of career). Buatlah rencana karier/bisnis yang spesifik, terukur, logis tercapai, realistis dan jelas batas waktunya. Buatlah matrix karier. Kemudian miliki mentor. Fungsi mentor ini memastikan arah karier dengan benar (FOKUS), memimpin di depan karena punya ekspertise di bidangnya, berfikir strategi, dan berorientasi jangka panjang dengan waktu yang terbatas

Ada sebagian orang yang menggangap karier adalah pekerjaan. Yang lain mungkin menggangap karier adalah profesi. Saya perlu sedikit luruskan. Dari sejumlah literature mengenai karier, karier berasal dari bahasa Yunani yang artinya carrier (transportation/kendaraan). Karier bukan pekerjaan yang merupakan serangkaian aktivitas kerja dalam perusahaan. Sehingga relevan dengan padangan bahwa career is not job, career is us! Kita bisa saja diPecat dari pekerjaan kita, tapi tidak dari karier kita. Sementara apa hubungannya dengan profesi?

Karier merupakan kendaraan bagi profesi untuk mengantarkan tujuannya menjadi sukses mulianya. Kendaraan ini mempunyai tingkatan, seperti alat transportasi. Analoginya, sama-sama kendaraan, tapi orang yang pakai motor akan beda kecepatannya sampai ke tujuan dibandingkan dengan orang yang menggunakan pajero sport. Orang yang mengendarai pajero sport mungkin kalah kecepatannya disbanding orang yang pakai Ferari. Coba analisa sendiri, kaitkan dengan karier.

Zaman berubah mengikuti hukum VUCA (rapid change), uncertain, Complex dan Ambigu saat ini. Aturan main yang berlaku dalam karier pun mengalami pergeseran. Penuhi prinsip dasar dalam berkarier SUKSES MULIA : kontribusi terkeren, sikap professional terkece dan tunjukan reputasi teroke. Untuk memenuhi hal ini ada 4 jurus yang perlu diingat. SEAL : Self understanding, Environment understanding, Act for Competence, dan Ladder of career.

Sumber : Lina Melinda K (Psikolog Career Accelerator)

Bila anda tertarik untuk mengikuti test STIFIn dapat menghubungi kami RUTE TALENTA.

CP : 0856-2464-3232 (Wildan) / 0813-1288-6815 (Deyu “STIFIn Promotor”)

Iklan

BAHAGIA

Satu kata yang kita cari. Dengan susah payah berupaya untuk kita rengkuh. Mati-matian agar bisa kita rasakan. Sepanjang hayat coba kita wujudkan.

Bohong besar jika kita tak ingin hidup bahagia. Meski parameter kebahagian masing-masing orang berbeda, tetap saja semua orang menginginkannya. Defini bahagia coba orang-orang urai, maka akan menjelma dengan banyak wujud. Ada yang bahagia bila mempunyai istri yang cantik nan shalihah. Ada juga yang beranggapan dengan banyaknya harta maka hidup terasa bahagia. Ada juga yang sudah merasa bahagia bila berada dekat dengan sahabat.

Tapi, itu semua sifatnya artifisial. Akan hilang seiring perjalanan waktu. Karena bahagia adalah urusan hati, yang kan bersemayam selamanya di sana. Menetap tidak ingin pergi, pun tak mau di ganti. Bahagia adalah soal menghindari penderitaan. Derita yang mencekam, menyiksa jiwa dan raga yang terus coba kita enyahkan.

Bahagia ibaratkan dahaga. Merengkuh satu kebahagian tidak akan pernah terasa cukup, ia meminta di isi kembali. Selalu meminta di tambah, lagi dan lagi. Sampai akhirnya kita wafat, maka dahaga bahagia kan hilang. Dan tibalah kita pada suatu masa, dimana Tuhan kita bertanya, “Bahagiamu kau peroleh darimana ? dan kau bagikan kepada siapa?”

mwm

 

ABALABA TREK WALL

Produk :

  • Trek Wall
OUR PRODUCT
OUR PRODUCT

 

 

 

 

 

 

 

 

Spesifikasi :

  • Bahan Fiberglass Resin Panel.

Bahan lebih awet dan berkualitas, ketahanan sampai ± 15 tahun (contoh: climbing wall di Eiger Jl. Cihampelas atau Eiger Jl. Sumatera), kualitas terjamin.

  • Bahan Plywood Coating Resin / Multiplek. Ketebalan 20 mm, harga lebih terjangkau, ketahanan sampai 3 – 5 tahun bila di simpan di outdoor, bila di indoor lebih tahan lama.

IMG-20160321-WA0005

  • Ukuran panel keseluruhan 2,7 x 1,5 m
  • Ukuran kaki + rangka 2,7 x 2 m
  • Daya : 500 watt
  • Kecepatan hingga 18 km/jam
  • Kemiringan dari 0-15 derajat

Price :

  • 55 juta ( Bahan Fiberglass Resin panel )
  • 45 juta ( Bahan Plywood Coating Resin / Multiplek )

Include :

  • Pengiriman dan Pemasanagan (area Bandung & Jabodetabek)
  • Points / Hand Holds
  • Garansi Mesin 3 Bulan
  • Garasi barang 6 Bulan

IMG-20160321-WA0003

 

 

 

 

 

 

Term Of Payment :

  • Down Payment 60 %
  • Pelunasan saat barang tiba di lokasi 40 %
  • Lama Pembuatan 2-3 minggu
  • Contact Person : Anisa Andini 0878-2227-5740 or Wildan 0812-2144-313

For more information visit out :

Website : abalabaclimbingwalls.com

Fb : Abalaba Climbing Wall

Ig : Abalabacw

Watch Video : https://www.facebook.com/abalaba.climbingwalls/videos/vb.1654028768/10207594305089741/?type=3&theater

Equipment Wall Climbing

1. Harness

Sebuah alat untuk menopang tubuh. Harness berdasarkan bentuk dibedakan menjadi tiga yaitu sit harness, chest harness, dan full body harness. Ketiga bentuk ini memiliki fungsi yang berbeda pula. Sit harness biasanya digunakan oleh para pemanjat tebing, sedangkan full body harness biasanya digunakan oleh pekerja bangunan yang berada di ketinggian seperti membersihkan kaca gedung, dan lain-lain.

daftar peralatan dan perlengkapan wall climbing
Harness

Sebelum ada harness yang praktis, dahulu para pecinta alam menggunakan tali webbing yang diikatkan sedemikian rupa ke tubuh bagian bawah yang dihubungkan oleh carabiner ke tali Karmantel. Namun sekarang ada harness yang lebih praktis yang tinggal pakai.

2. Tali Karmantel

Adalah salah satu peralatan wajib yang harus dimiliki para climber. Fungsinya untuk melindungi pemanjat dari kecelakaan seperti jatuh ke tanah. Secara umumj tali karmantel dibedakan menjadi 2 jenis yaitu elastis dan dinamis. Kedua jenis tali tersebut memiliki kegunaan yang berbeda juga. Tali statis biasanya digunakan saat rappeling (turun dari ketinggian). Tali statis ini memiliki tingkat kerenggangan sekitar 15%.

peralatan perlengkapan climbing
Karmantel

Sedangkan tali dinamis biasanya digunakan saat menaiki atau memanjat tebing. Tingkat kelenturan tali dinamis ini dua kali lipat dari tali statis. Sebuah tali karmantel sanggup menahan beban sebesar 100 kilogram atau lebih.

3. Carabiner

daftar peralatan climbing
Carabiner

Berfungsi untuk menghubungkan alat yang satu dengan alat yang lain. Carabiner juga disebut cincin kait yang memang berguna sebagai pengait antar alat. Terbuat dari bahan logam yang sangat kuat. Carabiner atau peralatan climbing lainnya yang terbuat dari logam tidak boleh jatuh ke permukaan yang keras karena bisa menyebabkan keretakan dan tentunya bisa mengancam jiwa pengguna.

4. Ascender

Sebuah peralatan mekanis untuk melintasi sebuah tali saat naik atau memanjat. Sebelum alat ini muncul, para climber biasanya menggunakan tali prusik namun penggunaan tali prusik tersebut lebih rumit dan sulit.

fungsi peralatan wall climbing
Ascender

Secara fungsi ascender dibagi menjadi 2 jenis yaitu Sprung Cam (Petz Basic dan Croll) dan Cam Loaded (Gibbs Shunt dan Hiebler). Sedangkan berdasarkan bentuk pegangan, ascender terbagi menjadi 2 juga yaitu Heandle Ascender (SRT, Petzl Expedition dan Ascention) dan Non Heandle Ascender (Petzl Basic, Croll, Gibbs Shunt).

Ascender ini juga sering disebut jumar. Namun sebenarnya jumar adalah merek terkenal sebuah ascender yang berasal dari Swiss.

5. Descender

peralatan wall climbing
Descender

Kebalikan dari ascender, descender adalah alat yang digunakan untuk menuruni lintasan tali. Ada 2 jenis descender yaitu descender manual dan otomatis.

6. Figure 8

daftar peralatan panjat tebing
Figure 8

Disebut figure 8 karena bentuknya yang seperti angka 8. Alat ini biasanya digunakan saat rappeling ataupun membiley. Alat ini berfungsi untuk menghambat jalannya tali karmantel saat rappeling. Figure 8 terbuat dari partikel baja sehingga sangat kuat untuk menahan beban berat. Namun seperti carabiner, figure 8 ini tidak boleh jatuh di permukaan yang keras.

7. Webbing

peralatan climbing
Webbing

Webbing adalah sebuah tali yang berbentuk pita yang sangat kuat yang memiliki multi fungsi seperti alat tali tubuh, pengganti harness, anchor dan lain-lain. Webbing bisa diperoleh dengan mudah di toko peralatan outdoor.

8. Sepatu Panjat

peralatan wall climbing
Sepatu Climbing

Sepatu khusus untuk memanjat tebing. Sepatu ini memiliki kelenturan karet solnya yang sangat kuat yang sangat cocok digunakan pada tebing yang memiliki permukaan yang tidak beraturan dan kasar, sehingga mempermudah climber dalam menaklukkan tebing yang sulit sekalipun.

9. Chalk Bag

peralatan panjat dinding
Chalk Bag

Berguna untuk tempat penyimpanan magnesium atau sering disebut juga tepung anti keringat yang berguna agar tangan si pemanjat tidak basah oleh keringat. Biasanya Chalk bag diletakkan di belakang pinggang.

10. Mailon Rapid

peralatan rock climbing
Mailon Rapid

Bentuk dan fungsinya seperti carabiner namun mailon rapid hanya digunakan saat penelusuran goa. Terbuat dari aluminium alloy yang sangat ringan namun kuat. Mailon rapid memiliki beberapa bentuk yaitu oval, delta, dan half moon.

(http://www.jejaksibolang.com/2014/10/daftar-peralatan-wall-climbing-dan.html)

Jenis Wall Climbing

climbing isn’t safe; it’s dangerous.
You can make it safer but you cannot make it safe.
With this awareness your attention is focused effectively
on the situation and the consequences.
You’ll be less likely to feel safe and protected,
and therefore act in ways that keep you as safe as possible

Feeling Safe is Dangerous , Arno Ilgner

•  Free Climbing

Teknik memanjat tebing dengan menggunakan alat-alat hanya untuk pengaman saja, tidak langsung mempengaruhi gerakan pemanjat / menambah ketinggian. Sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Pemanjat naik secara bergiliran, leader (membuat jalur) dan belayer (pengaman).

•  Free Soloing

Merupakan bagian dari free climbing , tetapi pendaki menghadapi segala resiko seorang diri yang dalam pergerakannya tidak memerlukan bantuan peralatan pengaman. Untuk melakukan hal ini seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau bentuk pergerakan yang akan dilakukan pada rute yang akan dilaluinya. Bahkan kadang harus dihafalkan dahulu segala gerakan baik tumpuan atau pegangan, sehingga hal ini biasanya dilakukan pada rute yang pernah dilalui.

•  Artifisial Climbing

Adalah pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, karena sering sekali dihadapi medan yang kurang / tidak memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai misalkan ada medan yang blank. Biasanya pendakian ini dilakukan berkelompok dengan tugas yang jelas antara leader dan belayer .

Berdasarkan sistem belay / fall protection, panjat tebing terbagi dalam beberapa ketegori :

•  Gym Climbing

Pada tipe ini, belayer ada di bawah ( ground ) dengan tali dibelokan oleh sistem anchor (pullay atau carabiner) diatas climber. Jika climber jatuh maka berat climber tadi akan dibelokan oleh sistem anchor yang lalu ditahan oleh belayer.

•  Top Roping

Pada tipe ini, belayer ada di atas ( top ) yang melakukan belay terhadap tali yang menuju climber ke bawah. Untuk mengurangi beban yang ditahan belayer ketika climber jatuh, biasanya dibuat sistem pengaman pembantu (pembelokan atau pengalihan beban).

•  Lead Climbing

Pada tipe ini, tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer langsung ke climber . Pada saat climber mulai memanjat, belayer mengulurkan tali, kemudian pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 3 meter) climber terus memasang alat pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan climber akan menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang. Terbagi 2 :

•  Sport Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Pada Sport climbing rute yang dipanjat umumya telah bolted (pada interval ketinggian tertentu ada hanger pada dinding tebing).

•  Traditional / Trad / Adventure Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan. Pada Trad Climbing , dinding tebing bersih dari bolts dan hangers, tidak  ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang. Climber harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis Leader membuat stasiun belay untuk membelay Climber kedua. Climber yang sebelumnya membelay pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama.

Berdasarkan tingkat kesulitan, panjat tebing dapat dibagi dalam 2 kategori :

•  Crag Climbing , merupakan panjat bebas, dan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

1. Single pitch climbing : dalam pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti di tengah untuk mengamankan orang kedua.

2. Multi pitch climbing : pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan diperlukan pergantian leader. Tiap pemanjat memulai dan mengakhiri pada teras memadai untuk mengamankan diri dan untuk mengamankan orang kedua ( second man )

•  Big Wall Climbing , merupakan jenis pemanjatan di tempat yang lebih tinggi dari Crag Climbing dan membutuhkan waktu berhari-hari, peralatan yang cukup dan memerlukan pengaturan tentang jadwal pemanjatan, makanan, perlengkapan tidur dll. Dalam pemanjatan bigwall ada dua sistem yang dipakai yaitu :

1. Alpine System / Alpine Push / Siege Tactic. Dalam alpine push , pemanjat selalu ada di tebing dan tidur di tebing. Jadi segala peralatan dan perlengkapan serta kebutuhan untuk pemanjatan dibawa ke atas. Pemanjat tidak perlu turun sebelum pemanjatan berakhir. Pendakian ini baru dianggap berhasil apabila semua pendaki telah mencapai puncak.

2. Himalayan System / Himalayan Tactic. Sistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai sasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Pemanjatan big wall yang dilakukan sampai sore hari, setelah itu pemanjat boleh turun ke base camp untuk istirahat dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel di tebing untuk memudahkan pemanjatan selanjutnya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri atas beberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahat. Sehingga dengan berhasilnya satu orang dari seluruh tim, berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim

Perbedaan dari Alpine System dan Himalayan System adalah :

Alpine System Himalayan System
1. Alat yang digunakan lebih sedikit 1. Alat yang dibutuhkan lebih banyak dan waktu pemanjatan lebih lama
2. Waktu istirahat sedikit 2. Waktu istirahat banyak
3. Perlu load carry 3. Tidak memerlukan load carry
4. Pendakian berhasil ketika seluruh tim berhasil 4. Pendakian sudah dikatakan berhasil ketika salah satu anggota tim berhasil

lifeisneverflat