BAHAGIA

Satu kata yang kita cari. Dengan susah payah berupaya untuk kita rengkuh. Mati-matian agar bisa kita rasakan. Sepanjang hayat coba kita wujudkan.

Bohong besar jika kita tak ingin hidup bahagia. Meski parameter kebahagian masing-masing orang berbeda, tetap saja semua orang menginginkannya. Defini bahagia coba orang-orang urai, maka akan menjelma dengan banyak wujud. Ada yang bahagia bila mempunyai istri yang cantik nan shalihah. Ada juga yang beranggapan dengan banyaknya harta maka hidup terasa bahagia. Ada juga yang sudah merasa bahagia bila berada dekat dengan sahabat.

Tapi, itu semua sifatnya artifisial. Akan hilang seiring perjalanan waktu. Karena bahagia adalah urusan hati, yang kan bersemayam selamanya di sana. Menetap tidak ingin pergi, pun tak mau di ganti. Bahagia adalah soal menghindari penderitaan. Derita yang mencekam, menyiksa jiwa dan raga yang terus coba kita enyahkan.

Bahagia ibaratkan dahaga. Merengkuh satu kebahagian tidak akan pernah terasa cukup, ia meminta di isi kembali. Selalu meminta di tambah, lagi dan lagi. Sampai akhirnya kita wafat, maka dahaga bahagia kan hilang. Dan tibalah kita pada suatu masa, dimana Tuhan kita bertanya, “Bahagiamu kau peroleh darimana ? dan kau bagikan kepada siapa?”

mwm

 

Iklan

ABALABA TREK WALL

Produk :

  • Trek Wall
OUR PRODUCT
OUR PRODUCT

 

 

 

 

 

 

 

 

Spesifikasi :

  • Bahan Fiberglass Resin Panel.

Bahan lebih awet dan berkualitas, ketahanan sampai ± 15 tahun (contoh: climbing wall di Eiger Jl. Cihampelas atau Eiger Jl. Sumatera), kualitas terjamin.

  • Bahan Plywood Coating Resin / Multiplek. Ketebalan 20 mm, harga lebih terjangkau, ketahanan sampai 3 – 5 tahun bila di simpan di outdoor, bila di indoor lebih tahan lama.

IMG-20160321-WA0005

  • Ukuran panel keseluruhan 2,7 x 1,5 m
  • Ukuran kaki + rangka 2,7 x 2 m
  • Daya : 500 watt
  • Kecepatan hingga 18 km/jam
  • Kemiringan dari 0-15 derajat

Price :

  • 55 juta ( Bahan Fiberglass Resin panel )
  • 45 juta ( Bahan Plywood Coating Resin / Multiplek )

Include :

  • Pengiriman dan Pemasanagan (area Bandung & Jabodetabek)
  • Points / Hand Holds
  • Garansi Mesin 3 Bulan
  • Garasi barang 6 Bulan

IMG-20160321-WA0003

 

 

 

 

 

 

Term Of Payment :

  • Down Payment 60 %
  • Pelunasan saat barang tiba di lokasi 40 %
  • Lama Pembuatan 2-3 minggu
  • Contact Person : Anisa Andini 0878-2227-5740 or Wildan 0812-2144-313

For more information visit out :

Website : abalabaclimbingwalls.com

Fb : Abalaba Climbing Wall

Ig : Abalabacw

Watch Video : https://www.facebook.com/abalaba.climbingwalls/videos/vb.1654028768/10207594305089741/?type=3&theater

Equipment Wall Climbing

1. Harness

Sebuah alat untuk menopang tubuh. Harness berdasarkan bentuk dibedakan menjadi tiga yaitu sit harness, chest harness, dan full body harness. Ketiga bentuk ini memiliki fungsi yang berbeda pula. Sit harness biasanya digunakan oleh para pemanjat tebing, sedangkan full body harness biasanya digunakan oleh pekerja bangunan yang berada di ketinggian seperti membersihkan kaca gedung, dan lain-lain.

daftar peralatan dan perlengkapan wall climbing
Harness

Sebelum ada harness yang praktis, dahulu para pecinta alam menggunakan tali webbing yang diikatkan sedemikian rupa ke tubuh bagian bawah yang dihubungkan oleh carabiner ke tali Karmantel. Namun sekarang ada harness yang lebih praktis yang tinggal pakai.

2. Tali Karmantel

Adalah salah satu peralatan wajib yang harus dimiliki para climber. Fungsinya untuk melindungi pemanjat dari kecelakaan seperti jatuh ke tanah. Secara umumj tali karmantel dibedakan menjadi 2 jenis yaitu elastis dan dinamis. Kedua jenis tali tersebut memiliki kegunaan yang berbeda juga. Tali statis biasanya digunakan saat rappeling (turun dari ketinggian). Tali statis ini memiliki tingkat kerenggangan sekitar 15%.

peralatan perlengkapan climbing
Karmantel

Sedangkan tali dinamis biasanya digunakan saat menaiki atau memanjat tebing. Tingkat kelenturan tali dinamis ini dua kali lipat dari tali statis. Sebuah tali karmantel sanggup menahan beban sebesar 100 kilogram atau lebih.

3. Carabiner

daftar peralatan climbing
Carabiner

Berfungsi untuk menghubungkan alat yang satu dengan alat yang lain. Carabiner juga disebut cincin kait yang memang berguna sebagai pengait antar alat. Terbuat dari bahan logam yang sangat kuat. Carabiner atau peralatan climbing lainnya yang terbuat dari logam tidak boleh jatuh ke permukaan yang keras karena bisa menyebabkan keretakan dan tentunya bisa mengancam jiwa pengguna.

4. Ascender

Sebuah peralatan mekanis untuk melintasi sebuah tali saat naik atau memanjat. Sebelum alat ini muncul, para climber biasanya menggunakan tali prusik namun penggunaan tali prusik tersebut lebih rumit dan sulit.

fungsi peralatan wall climbing
Ascender

Secara fungsi ascender dibagi menjadi 2 jenis yaitu Sprung Cam (Petz Basic dan Croll) dan Cam Loaded (Gibbs Shunt dan Hiebler). Sedangkan berdasarkan bentuk pegangan, ascender terbagi menjadi 2 juga yaitu Heandle Ascender (SRT, Petzl Expedition dan Ascention) dan Non Heandle Ascender (Petzl Basic, Croll, Gibbs Shunt).

Ascender ini juga sering disebut jumar. Namun sebenarnya jumar adalah merek terkenal sebuah ascender yang berasal dari Swiss.

5. Descender

peralatan wall climbing
Descender

Kebalikan dari ascender, descender adalah alat yang digunakan untuk menuruni lintasan tali. Ada 2 jenis descender yaitu descender manual dan otomatis.

6. Figure 8

daftar peralatan panjat tebing
Figure 8

Disebut figure 8 karena bentuknya yang seperti angka 8. Alat ini biasanya digunakan saat rappeling ataupun membiley. Alat ini berfungsi untuk menghambat jalannya tali karmantel saat rappeling. Figure 8 terbuat dari partikel baja sehingga sangat kuat untuk menahan beban berat. Namun seperti carabiner, figure 8 ini tidak boleh jatuh di permukaan yang keras.

7. Webbing

peralatan climbing
Webbing

Webbing adalah sebuah tali yang berbentuk pita yang sangat kuat yang memiliki multi fungsi seperti alat tali tubuh, pengganti harness, anchor dan lain-lain. Webbing bisa diperoleh dengan mudah di toko peralatan outdoor.

8. Sepatu Panjat

peralatan wall climbing
Sepatu Climbing

Sepatu khusus untuk memanjat tebing. Sepatu ini memiliki kelenturan karet solnya yang sangat kuat yang sangat cocok digunakan pada tebing yang memiliki permukaan yang tidak beraturan dan kasar, sehingga mempermudah climber dalam menaklukkan tebing yang sulit sekalipun.

9. Chalk Bag

peralatan panjat dinding
Chalk Bag

Berguna untuk tempat penyimpanan magnesium atau sering disebut juga tepung anti keringat yang berguna agar tangan si pemanjat tidak basah oleh keringat. Biasanya Chalk bag diletakkan di belakang pinggang.

10. Mailon Rapid

peralatan rock climbing
Mailon Rapid

Bentuk dan fungsinya seperti carabiner namun mailon rapid hanya digunakan saat penelusuran goa. Terbuat dari aluminium alloy yang sangat ringan namun kuat. Mailon rapid memiliki beberapa bentuk yaitu oval, delta, dan half moon.

(http://www.jejaksibolang.com/2014/10/daftar-peralatan-wall-climbing-dan.html)

Jenis Wall Climbing

climbing isn’t safe; it’s dangerous.
You can make it safer but you cannot make it safe.
With this awareness your attention is focused effectively
on the situation and the consequences.
You’ll be less likely to feel safe and protected,
and therefore act in ways that keep you as safe as possible

Feeling Safe is Dangerous , Arno Ilgner

•  Free Climbing

Teknik memanjat tebing dengan menggunakan alat-alat hanya untuk pengaman saja, tidak langsung mempengaruhi gerakan pemanjat / menambah ketinggian. Sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Pemanjat naik secara bergiliran, leader (membuat jalur) dan belayer (pengaman).

•  Free Soloing

Merupakan bagian dari free climbing , tetapi pendaki menghadapi segala resiko seorang diri yang dalam pergerakannya tidak memerlukan bantuan peralatan pengaman. Untuk melakukan hal ini seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau bentuk pergerakan yang akan dilakukan pada rute yang akan dilaluinya. Bahkan kadang harus dihafalkan dahulu segala gerakan baik tumpuan atau pegangan, sehingga hal ini biasanya dilakukan pada rute yang pernah dilalui.

•  Artifisial Climbing

Adalah pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, karena sering sekali dihadapi medan yang kurang / tidak memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai misalkan ada medan yang blank. Biasanya pendakian ini dilakukan berkelompok dengan tugas yang jelas antara leader dan belayer .

Berdasarkan sistem belay / fall protection, panjat tebing terbagi dalam beberapa ketegori :

•  Gym Climbing

Pada tipe ini, belayer ada di bawah ( ground ) dengan tali dibelokan oleh sistem anchor (pullay atau carabiner) diatas climber. Jika climber jatuh maka berat climber tadi akan dibelokan oleh sistem anchor yang lalu ditahan oleh belayer.

•  Top Roping

Pada tipe ini, belayer ada di atas ( top ) yang melakukan belay terhadap tali yang menuju climber ke bawah. Untuk mengurangi beban yang ditahan belayer ketika climber jatuh, biasanya dibuat sistem pengaman pembantu (pembelokan atau pengalihan beban).

•  Lead Climbing

Pada tipe ini, tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer langsung ke climber . Pada saat climber mulai memanjat, belayer mengulurkan tali, kemudian pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 3 meter) climber terus memasang alat pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan climber akan menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang. Terbagi 2 :

•  Sport Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Pada Sport climbing rute yang dipanjat umumya telah bolted (pada interval ketinggian tertentu ada hanger pada dinding tebing).

•  Traditional / Trad / Adventure Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan. Pada Trad Climbing , dinding tebing bersih dari bolts dan hangers, tidak  ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang. Climber harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis Leader membuat stasiun belay untuk membelay Climber kedua. Climber yang sebelumnya membelay pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama.

Berdasarkan tingkat kesulitan, panjat tebing dapat dibagi dalam 2 kategori :

•  Crag Climbing , merupakan panjat bebas, dan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

1. Single pitch climbing : dalam pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti di tengah untuk mengamankan orang kedua.

2. Multi pitch climbing : pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan diperlukan pergantian leader. Tiap pemanjat memulai dan mengakhiri pada teras memadai untuk mengamankan diri dan untuk mengamankan orang kedua ( second man )

•  Big Wall Climbing , merupakan jenis pemanjatan di tempat yang lebih tinggi dari Crag Climbing dan membutuhkan waktu berhari-hari, peralatan yang cukup dan memerlukan pengaturan tentang jadwal pemanjatan, makanan, perlengkapan tidur dll. Dalam pemanjatan bigwall ada dua sistem yang dipakai yaitu :

1. Alpine System / Alpine Push / Siege Tactic. Dalam alpine push , pemanjat selalu ada di tebing dan tidur di tebing. Jadi segala peralatan dan perlengkapan serta kebutuhan untuk pemanjatan dibawa ke atas. Pemanjat tidak perlu turun sebelum pemanjatan berakhir. Pendakian ini baru dianggap berhasil apabila semua pendaki telah mencapai puncak.

2. Himalayan System / Himalayan Tactic. Sistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai sasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Pemanjatan big wall yang dilakukan sampai sore hari, setelah itu pemanjat boleh turun ke base camp untuk istirahat dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel di tebing untuk memudahkan pemanjatan selanjutnya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri atas beberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahat. Sehingga dengan berhasilnya satu orang dari seluruh tim, berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim

Perbedaan dari Alpine System dan Himalayan System adalah :

Alpine System Himalayan System
1. Alat yang digunakan lebih sedikit 1. Alat yang dibutuhkan lebih banyak dan waktu pemanjatan lebih lama
2. Waktu istirahat sedikit 2. Waktu istirahat banyak
3. Perlu load carry 3. Tidak memerlukan load carry
4. Pendakian berhasil ketika seluruh tim berhasil 4. Pendakian sudah dikatakan berhasil ketika salah satu anggota tim berhasil

Wall Climbing Indonesia

Kemunculan olahraga panjat dinding tak bisa dilepaskan dari perkembangan panjat tebing di alam terbuka. Kegiatan ini merupakan salah satu cabang mendaki gunung. Di Indonesia, perkembangan panjat tebing mulai disebarluaskan dari Gladian Pecinta Alam pada 1975 di Gunung Citatah, Padalarang, Jawa Barat. Pada salah satu mata acara pertemuan, para pecinta alam ini mengajarkan teknik panjat dan turun tebing. Tahun 1976, Harry Suliztiarto mahasiswa Seni Rupa ITB, tak sanggup lagi menahan obsesinya.

Dengan tali nilon dia mulai latihan panjat-memanjat di Citatah, dan di-belay oleh pembantu rumahnya. Tahun berikutnya, bersama Agus Resmonohadi, Heri Hermanu dan Deddy Hikmat, rekan-rekan mahasiswa ITB, Harry mendirikan Skygers Amateur Rock Climbing Group di Bandung Pada dekade 80-an, Skygers membuka kursus panjat tebing (yang dijuluki padepokan), yang menyedot banyak murid berasal dari berbagai provinsi dan berhasil menyebarluaskan olahraga panjat tebing di Indonesia. Dunia petualangan Indonesia makin marak ketika empat atlet panjat tebing papan atas dari Prancis datang ke Jakarta. Atas undangan Kantor Menpora dan Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, mereka menularkan ilmu pemanjatan pada dinding buatan kepada para pemanjat lokal pada 1988. Di waktu yang sama, lahir Federasi Panjat Gunung dan Tebing Indonesia. Ketuanya, Harry Suliztiarto – pemanjat legendaris yang sempat merayapi atap Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sejak persentuhan itu panjat dinding terus berkembang. Tiap tahun popularitasnya menunjukkan grafik yang menaik. Dari Pulau Jawa, kegiatan ini menyebar ke luar. Pada 1991, digelar kejuaraan nasional panjat dinding yang pertama di Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya ada kejuaraan dan diikuti pemanjat se-Indonesia, namun julukannya belum lagi kejuaraan nasional, dan diselenggarakan di Jawa dan Bali saja. Dibanding panjat tebing alam, memanjati dinding buatan menawarkan beberapa kemudahan. Satu contoh dari segi pencapaian lokasi, dinding panjat buatan jauh lebih gampang. Dinding panjat dibangun pada wilayah keramaian, seperti kampus, mal atau pusat olahraga. Kondisi ini sangat berbeda dengan pemanjatan di tebing alam. Seorang pemanjat harus berlelah-lelah mencapai kaki tebing sebelum melakukan pemanjatan.

Tak jarang, kemah induk pemanjatan harus dicapai setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari. Ini sebabnya dinding panjat buatan sekarang tumbuh subur di berbagai kampus dan sekolah menengah di kota-kota besar. Seakan suatu fasilitas pendidikan tidak lengkap jika tanpa dinding panjat. Di Jakarta hampir semua kampus besar seperti Universitas Borobudur, Universitas Tarumanegara, Universitas Mercu Buana, dan sebagainya memiliki dinding panjat. Sekolah menengah pun demikian. Walau lebih mudah dicapai, bukan berarti panjat dinding tak butuh kesiapan mental dan fisik si pelakunya. Tanpa mental yang baik, seseorang takkan sanggup menikmati tarian ketinggian yang antigravitasi ini. Jangan harap bisa berlenggang-lenggok di papan panjat. Fisik yang amburadul sudah pasti akan menghambat proses pemanjatan.

Itu sebabnya, disarankan untuk tetap giat berlatih agar stamina bisa tetap terjaga. Persiapan fisik yang terbaik adalah melakukan angkat badan. Namun sebelum ini, jika mengikuti petunjuk kesehatan olahraga, tentunya harus ada persiapan fisik seperti lari ringan dan senam untuk memperkuat jantung dan paru. Melatih otot jari dan lengan berarti sebelumnya mengembangkan otot pundak dan pangkal lengan. Kunci kesuksesan pemanjat dalam menyelesaikan jalur tanpa jatuh adalah kekuatan jari mencengkeram pegangan. Dalam kegiatan panjat tebing hobi yang utama adalah berhasil mencapai puncak jalur tanpa terjatuh.

Tali pengaman memang mengamankan tubuh agar tidak terempas kalau pegangan terlepas. Namun ”seni panjat tebing adalah menyelesaikan masalah di mana kita menempatkan tubuh dan mencengkeram pegangan serta memijakkan kaki agar tidak terjatuh. Jika aliran gerak tubuh ini meliuk lancar maka mereka yang di bawah akan melihatnya sebagai suatu tarian vertikal yang seakan menentang gaya tarik bumi. Kalau mau mencoba panjat dinding, ada beberapa alat wajib yang harus dipakai, yaitu figure of 8 (descender), harness, Gri-gri, carabiner screw gate, carabiner gate, carabiner bent gate, runner (dua carabiner gate dan bent gate yang disatukan dengan memakai quickdraw sling), sepatu panjat, helm, chalk bag dan magnesium karbonat – berfungsi untuk menjaga tangan terhindar dari serangan keringat.

(http://buniropescamp.com/artikels/view/31#.VvaK-ED1rDc)

lifeisneverflat