Menapaki Karier di Era Millenial

Who’s millennial ?

Sampai dengan saat ini masih terjadi perdebatan pada rentang usia berapa seseorang dikelompokkan dalam generasi millennial. Australia mengelompokkan mereka lahir pada periode 1982-2000, sedangkan Amerika bilang millennial adalah kelompok umur yang lahir pada periode 1980-2000 and so on. Hingga akhirnya disepakati secara normatif, generasi millennial adalah periode kelahiran (kohort) yang lahir antara rentang tahun 1980-2000.

Sejarahnya berawal di tahun 1983, perusahaan-perusahaan di USA melihat ada gejala sosial dari anak-anak usia 12 – 13 tahun (teenager) yang berbeda perilakunya dengan generasi sebalumnya. Shortly world, akhirnya mengelompokkan generasi ini ke dalam generasi Y. Generasi ini punya banyak nama, dalam beberapa literatur istilah generasi millennial ini dikenal juga sebagai gen Y, Net generation, Echo-boomer generation, peter pan generation, boomerang generation.

Kenapa akhirnya generasi ini diberi nama millennial, hal ini tidak lain karena mereka lahir di era millennial. Era high tech dan informasi digital. Dikarenakan mereka lahir di zaman ini, karakteristik perilaku generasi millennial akhirnya menjadi sebuah budaya yang mempengaruhi cross generation lainnya. Jadi jika suatu saat bertemu dengan orang yang seumuran orang tua atau oma/opa kita yang terlihat eksis selfie atau welfie di sosmed, posting curcol-an, dan sejenisnya, harap maklum. Bukan berarti mereka regresi/mundur dalam perkembangan kepribadiannya, tapi karena mereka hidup tepat di zaman high tech & digital info dan bersama-sama dengan generasi millennial ini.

Generasi millennial memiliki beberapa karakteristik, diantara :

  1. Millennial cenderung mencari karier yang punya nilai “emotional bonding” Missal saat ini sedang trennya IT job, maka jenis pekerjaan IT yang dulu asing didengar, sekarang menjadi pekerjaan yang punya nilai emotional bond karena sedang naik daun. Misal jadi web developer, copy writer, SEO (Search Engine Optimizer), Sustainabillity manager, desainer manager, etc.
  2. Millennial juga mencari perusahaan yang punya nilai histori baik. Tidak hanya dalam nilai histori baik. Tidak hanya dalam hal reputasi, salari besar, promosi cepat dan aktualisasi diri.
  3. Para karyawan millennial mencari atasan yang juga bisa mengimbangi ‘kegape-an’ mereka dalam hal tech savy. Jadi kalau bertemu dengan atasan dari lintas generasi yang tidak tech savy, siap-siap bakal menjadi bahan ‘bully’an a-la warung kopi.
  4. Minimal syarat-syarat diatas harus masuk ke spek gen Y, kalau tidak bagaimana ? maka pada akhirnya tidak sedikit dari generasi millennial yang menjadi job hopper alias kutu loncat. Namun fenomena yang menariknya adalah belakangan job hopper menjadi profesi sendiri dan mereka dibayar mahal untuk itu. THE RULE HAS CHANGED!!!
  5. Orientasi karier millennial saat ini juga bergeser mostly menjadi entrepreneur. Jiwa yang dinamis berpadu dengan kecakapan teknis yang menjual, mendorong mereka untuk berkarier secara mandiri daripada menjadi karyawan kerah putih. Kalau kita mau telusuri profile mereka di komunitas professional Linkedln, karier para entrepreneur millennial muda ini tidak kalah keren di banding zaman ayah atau opa mereka.

Jika dulu menjadi pebisnis dimulai saat usia rambut di kelapa sudah menipis (usia 50 tahun ke atas), sekarang ini belum genap usia 25 tahun (pasca kuliah) sudah banyak yang menjadi CEO, owner, founder, etc. Mau tahu berapa banyak tenaga kerja millennial sekarang ini di Indonesia ?

Saat ini jumlah tenaga kerja millennial di Indonesia sekitar 35 persen dari total tenaga kerja yang ada (sekitar 75 mio). 6 persen diantaranya adalah pengangguran karena tidak mampu beradaptasi dengan kecepatan perubahan zaman. Saat ini eranya high digital technology. Semua orang dari lintas usia berbondong-bondong mempelajari kebutuhan untuk dapat survive di zaman ini.

Bagi para millennial yang tidak sigap bergerak, hati-hati terlindas perkembangan zaman. Apalagi jumlah millennial hingga tahun 2025 nanti jumlahnya akan mencapai 75 persen dari total populasi tenaga kerja. Artinya apa ? yes, persaingan semakin ketat. Sadar tidak sejak tahun kemaren kran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) telah di buka. So what should we do ?

Kami menganalisa ada dua fenomena yang sudah berjalan dan bisa diduplikasi. Pilihannya sederhana hanya ada dua, menjadi BOS atau KARYAWANnya. Menjadi BOS berarti membuka lapangan pekerjaan sendiri (menjadi entrepreneur) misalnya dengan membuat start up (fokusnya adalah untuk menjawab permasalahan yang ada di masyarakat). Contohnya Gojek, e-fihsery, hijup, bridestory, kudo, dll.

Bila menjadi KARYAWAN (S&K belaku), dimana harus menjadi karyawan kerah putih yang extraordinary. Level up your skill. Jangan hanya terbatas pada kurikulum sekolah/kampus/job desc. Each of us should raise up our add value. Terus menerus belajar mengenai ilmu lain yang menjadi kebutuhan zaman. Tidak peduli apakah lulusan SMK atau sarjana bahkan master atau doktor. Jika tidak dapat bersaing memenuhi tantangan zaman, maka tanpa ampun bisa tergeser dan akhirnya sekedar menjadi penonton di luar arena.

Berikan KONTRIBUSI, KERJA PROFESIONAL, dan tinggalkan REPUTASI yang baik. Ada data yang tidak kalah mencengangkan atau “kerON”. Hasil survey Forum Ekonomi Dunia terhadap 350 pemimpin senior perusahaan-perusahaan besar di 15 negara maju dan berkembang menunjukkan, sebanyak  7,1 juta pekerjaan akan menghilang akibat adanya otomatisasi di era digital technology ini. Namun seiring dengan itu akan tercipta 2,1 juta pekerjaan baru di sektor teknologi. Informasi ini bukan untuk menakut-nakuti tetapi hanya memberikan gambaran bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi era yang serba cepat berubah (volatile), tidak jelas (uncertainty), kompleks (complexity), dan Ambigu.

Ada empat jurus yang harus dimiliki oleh para millennial supaya mempunyai daya tahan dan daya saing dalam menjalani karier.

  1. Pahami diri sendiri (self understanding). Mengetahui apa bakat, minat, tujuan kontribusi kariernya. Saat ini cukup banyak tool yang dapat digunakan untuk mengukur bakat dan minat seseorang dalam hal berkarier. Mulai dari jenisnya inventory test paper & pencil hingga yang punya kosep kerON macam STIFIn ini. Setiap test mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Namun sejauh ini yang saya lakukan STIFIn yang paling pas menjawab ‘kegalauan’ karena hasil test yang terpercaya (R>0.8), culture free, tidak ada sosial desirability (kecenderungan jawaban mengikuti aturan sosial yang berlaku). Jadi yang pertama syarat mutlak dalam berkarier adalah temukan karier yang “GUE BANGET” berdasarkan hasil test FOKUS SATU HEBAT.
  2. Pahami lingkungan (environment understanding). Idenya adalah BUMBATA, buka mata buka telinga. Ikuti bagaimana perkembangan karier di era saat ini. Jangan alergi membaca berita. Selanjutnya, dapatkan social support (dukungan sosial), tidak hanya dari keluarga tapi juga dari rekan peer/komunitas yang supportif tentunya. Rajin-rajin berkunjung ke situs karier untuk tahu jenis karier apa yang sekarang sedang HITS.
  3. Jadilah kompeten (Act for competence). Ada sejumlah kompetensi yang wajib dimiliki oleh para millennial .

Satu : Komunikasi. Termasuk didalamnya digital literacy. Mulai dari etika memposting berita, memberi komentar atau menshare berita. Kata kuncinya adalah BEHAVE! Saat ini reputasi seseorang salah satunya dilihat dari bagaimana ia menggunakan medsos dalam berinteraksi. Kalau isinya curcolan melulu atau keluhan, calon atasan, atasan, investor bisnis akan males mendekatinya.

Dua : Kompetensi Team-ING. Kompetensi ini wajib dimiliki supaya karier bisa melaju cepat. Kata kuncinya : Kolaborasi. Pesaing atau competitor itu bukan musuh, tapi “hiu kecil” yang membuat kita selalu ‘alert’ dan waspada dalam menjalani karier.

Ketiga : Entreprenuership. Ini pas banger dengan psikososialnya millennial. Jadi tidak mengherankan kalau sekolah-sekolah bisnis entrepreneurship berjamuran buat anak-anak muda. Selain kompetensi ini menjadi tuntutan zaman, hal ini juga mengajarkan bagaimana millennial dapat segera hidup mandiri dan berkontribusi bagi orang lain.

Keempat : Paradigma Learn to earn. Sudah bukan waktunya lagi perilaku ‘alay’ zaman kita sekolah dibawa ke pekerjaan. Zamannya kita pakai seragam berbeda dengan saat kita berdasi.

  1. Membuat tangga karier (ladder of career). Buatlah rencana karier/bisnis yang spesifik, terukur, logis tercapai, realistis dan jelas batas waktunya. Buatlah matrix karier. Kemudian miliki mentor. Fungsi mentor ini memastikan arah karier dengan benar (FOKUS), memimpin di depan karena punya ekspertise di bidangnya, berfikir strategi, dan berorientasi jangka panjang dengan waktu yang terbatas

Ada sebagian orang yang menggangap karier adalah pekerjaan. Yang lain mungkin menggangap karier adalah profesi. Saya perlu sedikit luruskan. Dari sejumlah literature mengenai karier, karier berasal dari bahasa Yunani yang artinya carrier (transportation/kendaraan). Karier bukan pekerjaan yang merupakan serangkaian aktivitas kerja dalam perusahaan. Sehingga relevan dengan padangan bahwa career is not job, career is us! Kita bisa saja diPecat dari pekerjaan kita, tapi tidak dari karier kita. Sementara apa hubungannya dengan profesi?

Karier merupakan kendaraan bagi profesi untuk mengantarkan tujuannya menjadi sukses mulianya. Kendaraan ini mempunyai tingkatan, seperti alat transportasi. Analoginya, sama-sama kendaraan, tapi orang yang pakai motor akan beda kecepatannya sampai ke tujuan dibandingkan dengan orang yang menggunakan pajero sport. Orang yang mengendarai pajero sport mungkin kalah kecepatannya disbanding orang yang pakai Ferari. Coba analisa sendiri, kaitkan dengan karier.

Zaman berubah mengikuti hukum VUCA (rapid change), uncertain, Complex dan Ambigu saat ini. Aturan main yang berlaku dalam karier pun mengalami pergeseran. Penuhi prinsip dasar dalam berkarier SUKSES MULIA : kontribusi terkeren, sikap professional terkece dan tunjukan reputasi teroke. Untuk memenuhi hal ini ada 4 jurus yang perlu diingat. SEAL : Self understanding, Environment understanding, Act for Competence, dan Ladder of career.

Sumber : Lina Melinda K (Psikolog Career Accelerator)

Bila anda tertarik untuk mengikuti test STIFIn dapat menghubungi kami RUTE TALENTA.

CP : 0856-2464-3232 (Wildan) / 0813-1288-6815 (Deyu “STIFIn Promotor”)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s