TAMPOMAS 1684 MDPL

11 06 2013

Hari sudah siang ketika kami mulai pergi ke sumedang. Target waktu yang dianggarkan molor 2 jam dari yang direncanakan. Walhasil kami pun harus bermacet ria menuju belantara kota. Adalah aku, Ratna, Tiara, dan Yas hari itu sabtu 2 maret 2013 hendak pergi bersilaturahmi dengan gunung Tampomas.

Dengan tenaga yang luarbiasa, Ratna memacu mobilnya diatas kecepatan rata-rata. Ratna sudah mirip Michael Schumacer saja. Salip kanan-kiri tanpa sedikitpun rasa takut. Tepat dipertigaan hendak menuju alun-alun sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi, tanpa ampun motor itu pun mencium bemper mobil Ratna. Bukannya mengais kesakitan, setelah memberdirikan motor, bapa-bapa itu pun pergi. Kami hanya melongo menyaksikan kejadian tersebut dan nyali Ratna pun menciut.

Sebelumnya sudah ada Ajat yang menunggu kedatangan kami di Alun-alun kota Sumedang. Dengan setia tanpa sumpah serapah Ajat tetap di sana, padahal Ajat mempunyai kesempatan untuk pergi kembali ke kosan-nya. Tapi tidak ia lakukan. Ajat remaja tanggung berusia 17 tahun yang sebantar lagi akan menghadapi UN bukannya belajar, dia malah dengan senang hati memandu kami bersilaturahmi dengan gunung Tampomas.

Setelah bertemu Ajat, kami pun lalu makan sambil menenangkan Ratna yang mukanya masih pucat.

Gunung Tampomas memiliki ketinggian 1684 mdpl terletak di kabupaten Sumedang, ada dua jalur untuk menaikinya yaitu Narimbang dan Cibeureum. Kami pun memilih jalur Cibereum karena Ajat hanya hapal jalur itu. Mobil Ratna pun diparkir di rumah Dzikri yang sampai saat ini aku tak tahu wajahnya. Kami hanya disambut oleh bapanya Dzikri.

Setelah pamit. Pendakian kami mulai. Waktu menunjukan pukul 7 malam. Untuk menuju jalur pendakian kami dapat menumpang truk pengangkut pasir. Syahdan, hari sudah malam truk pun jarang lewat menyebabkan kami harus berjalan kaki jauh sekali.

Dua jam berlalu, kami pun tiba di pos satu. Pepohonan pinus menyambut kedatangan kami. Kami pun terus melangkah tanpa lelah. Sampai di pos dua atau tiga kami pun beristirahat. Di pos itu kami bertemu pendaki lain.

Udara dingin membuat perut kami keroncongan. Kami pun memutuskan untuk beristirahat kembali di pos 4 sambil mengisi perut. Ga persis di pos 4 nya seh, karena pos 4 ini terkenal angker. Gunung Tampomas terkenal karena keangkerannya, gunung ini sering di pakai untuk pertapaan. Meminta sesuatu dengan umpan sesajen.

Lepas dari pos 4 kami menuju pos 5. Pos yang membuat badan kepayahan, karena dari sinilah tanjakan sebenarnya dimulai. Ada Sanghyang Taraje dan Sanghyang Tikoro yang harus kami naiki.

Tepat setengah dua kami pun tiba di puncak. Lelah menghinggapi kami, sudah lebih baik tidur saja.

Hembusan angin membangunkan tidur kami. Sungguh, hembusan angin disini sangat kencang sekali. menusuk-nusuk kulit seperti jarum. Selepas matahari terbit, pemandangan dari atas puncak baru terlihat.

Indah sekali kawan! Sayang kamu tidak dapat menyaksikan.

Beberapa gunung terlihat dengan jelasnya, aku tak tahu itu gunung apa karena tak membawa peta. Awan yang imut sesekali tampak tersenyum pada kami. Kota Sumedang terlihat dengan jelas dari sini.

Indah sekali kawan! sayang kamu tidak menyaksikan.

Jam 9 pagi kami jelang. Kami pun memutuskan untuk turun. Menuruni trek yang sangat asik bila menuruninya dengan berlari. Sambil berhenti sejenak di kawah yang katanya sudah tidak aktif lagi.

Jam 14 siang kami jelang. Kami pun sudah di rumahnya dzikri. Yang sampai kami pulang pun kami tak menjumpai batang hidungnya. Setelah pamit dengan bapa dan ibunya dzikri perjalanan kami lanjutkan. Dengan Ajat dibelakang kemudi, Ratna di sampingnya menemai dan kami duduk di jok belakang.

Sebelum Bandung kami jelang, kami pun mampir terlebih dahulu ke warung baso. Dan basonya enak sekali, buatan Tasik ternyata. Sambil menunggu pertandingan Persib berlalu, karena mobil Ratna berplat B.

Hujan mengguyur sepanjang jalan. Kantuk lalu datang bergantian mengelitiki kami. Tapi kantuk tidak mampir ke Ratna, karena sebagai pengemudi ia tidak boleh tidur.

Tak terasa jatinangor sudah kami lalui. Lalu Cibiru kemudian pasar Gedebage. Di Metro Tiara pun turun lalu menaiki taksi melanjutkan ke sangkarnya di Cimahi. Tak lama depan rumahku sudah terlihat, aku dan yas pun turun.

Tinggallah Ratna sendirian melaju pulang ke rumahnya, semoga ia kuat menahan kantuk sendirian dan mudah-mudahan ia hapal jalan pulang ke rumahnya.

Terimakasih untuk trip kali ini. Sampai berjumpa di trip selanjutnya. Dadah!

 

M-W-M





Hidup Berawal Dari Mimpi

11 06 2013

Judul                     : Hidup Berawal Dari Mimpi

Author                  : Fadh Jibran – Bondan Prakoso and Fade 2 Black

Halaman              :

Tahun                   :

Penerbit              :

Pertama kali liat buku ini itu tahun lalu, tepatnya di bulan apa lupa. Pertama kali liat pas maen ke togomas. Pertama kali liat desain covernya eye kecing, sempat tertarik untuk beli. Tapi karena genrenya motivasi akhirnya mengurungkan niat. Karena kebetulan lagi ga tertarik baca novel tentang motivasi. Padahal udah dua orang sahabat yang bilang bahwa buku ini keren. Tapi tetap bergeming untuk tidak membacanya.

Adalah 4 hari yang lalu akhirnya buku ini terbaca juga, setelah stok bacaan hamper habis, buku ini masuk list untuk di baca. Dan, well secara overall saya suka. Tidak hanya menyoal cinta atau motivasi, buku ini memberikan perspektif baru dalam memandang kehidupan. Banyak informasi yang akan kamu peroleh setelah membaca buku ini.

Kisah didalam buku ini bersumber dari lagu-lagu Bondon and Fade 2 Black. Dari sebuah lagu kemudian dikembangkan oleh Fadh Jibran menjadi sebuah cerita. Beberapa kisah yang saya suka yaitu, Kau Puisi, Kali Bokong,Kita Selamanya, Waktu,

Kau Puisi bercerita tentang cinta yang ternyata dapat diukur dengan logika. Melalui pendekatan ilmu Fisika Newton I, Newton II, dan Newton III cinta menjadi masuk akal.

Kali Bokong bercerita bagaimana potret dua kutub yang berbeda. Dengan klasifikasi daerah pemukiman kaya serta rajin beribadah bersebelahan dengan daerah pemukiman miskin serta tidak rajin beribadah. Kejeniusan Fadh mengemukakan permasalahan ini sungguh luarbiasa. Tanpa bermaksud memojokan agama, ia memberi satu perspektif bahwa agama ada untuk membebaskan penindasan.

Kita Selamanya bercerita tentang kisah asmara bagaimana dua insan dimabuk asmara, tapi harus mengakhiri hubungan karena jarak dan waktu. Pertanyaan yang timbul, “apa itu waktu? apakah waktu dapat merekam momen kejadian? Apakah waktu dapat meniadakan jarak? Apakah itu waktu dan durasi?

Untuk buku ini saya kasih bintang empat. Buku ini memang juara, kalian perlu membacanya.

M-W-M





Tunggu Aku

11 06 2013

Matanya berbinar-binar mendapati sebuah pesan singkat di layar ponsel. Senyumnya mengembang mengetahui bahwa kekasihnya akan pulang. Setelah hamper 2 tahun ia menghilang. Tanpa jejak. Tanpa pesan. Bumi seakan berkomplot ikut menyembunyikan keberadaan dirinya. Semua berawal ketika ia memutuskan untuk memenuhi panggilan jiwa. Menjelajahi Nusantara.

Sungguh egois sekali dia, membuat aku harus menanggung rindu secara sepihak. Tak adil rasanya. Aku merana sendiri. Sementara dia, mungkin bersenang-senang dalam perjalanannya. Aku merutuki diri, menyesal tak ikut serta. Padahal ia sudah berkali-kali meminta ku untuk menyertai perjalanannya.

Sayang, bagiku Nusantara cukuplah menjadi sebuah nama dalam ruang-ruang peta. Tak lebih, tak kurang. Menghiasi pelajaran Geografi agar anak-anakku kelak menganggap pelajaran tersebut asyik. Tak tahukah dia panggilan jiwaku tak kalah penting bila dibandingkan dengan panggilan jiwanya.

Adalah idaman setiap wanita untuk berumah tangga. Di usiaku yang sudah menyentuh seperempat abad, berumah tangga menjadi kewajiban sekaligus hak yang harus tertunaikan. Apalagi bila sudah dikarunia buah hati. Lengkap sudah peranku sebagai wanita.

Aku sudah meminta dia untuk mengurungkan niatnya. “Tundalah barang sebentar. Mari menikah terlebih dahulu baru kita keliling Nusantara,” pintaku. Tapi kata-kataku tak membuatnya bergeming, dia tetap kukuh pada pendiriannya. Kesal sekali aku dibuatnya.

Menjelang kepergiannya, tidak ada yang aneh. Dia masih seperti dahulu, perhatiannya padaku tak berkurang malah semakin bertambah. Mungkin itu petanda dia akan pergi. Hanya saja aku tak berhasil menangkap sinyal yang dia berikan.

Tepat hari itu. Bertepatan dengan hari jadi kami, dia pergi. Tak ada hujan tak ada badai. Langit cerah angin bertiup dengan hangat. Semesta seakan merestui kepergiannya. Selang seminggu baru aku tahu dia telah pergi setelah orang tuanya mengabari. Orang tuanya pun tak dapat berbuat apa-apa, hanya dapat memberikan sebuah restu. Berharap anaknya pulang dalam keadaan selamat.

Berhari-hari aku menanti kabar darinya. Teman-temannya aku tanyai satu persatu, barangkali mereka mendapat kabar darinya. Tapi tak satu pun dari mereka yang tahu keberadaannya. Aku telusuri jejaring social, mungkin dia upload foto atau status. Nihil.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Aku tetap menunggu. Hanya harapan dan setia yang aku punya.

Seberapa jauh aku harus melangkah untuk dapat menemui kamu.

Berapa banyak tempat harus aku datangi, berharap kamu ada di sana.

Berapa banyak wajah harus aku kenali, untuk tahu wajahmu kini.

haruskah aku menjadi matahari. Atau menjadi waktu.

Agar kita dapat bertemu.

Dan kini, setelah menunggu sekian lama. Dia kembali. Penantiannya terbayar sudah. Kekasihnya pulang kepangkuan. Dengan riang gembira ia berjalan sambil membaca pesan dari sang kekasih, “sayang, aku pulang. Tunggu aku ditempat biasa”.

 

M-W-M





Untuk Purnama

11 06 2013

Boleh, aku panggil kau purnama? Nama yang indah dan mudah untuk aku ingat. Bukan berarti aku tak hapal namamu, hanya saja semakin bertambahnya umur kapasitas memory ingatanku semakin berkurang.

Boleh, aku panggil kau ibu? Wanita yang kelak melahirkan anak-anak kita kelak dari rahimmu. Menyusui serta mengajarinya berjalan serta berbicara. Dengan sabar dan telaten menghantarkan anak-anak kita untuk melihat dunia.

Boleh, aku panggil kau isteri? Wanita yang mendampingiku kelak dari membuka sampai kembali menutup mata. Patner hidupku dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Walau badai menerjang, tak pernah terbesit sedikitpun keinginan untuk berpaling.

Aku hanyalah seorang manusia biasa. Aku bisa berubah menjadi setan atau malaikat. Untuk berubah menjadi setan, tentu sangat mudah aku lakukan. Tapi untuk berubah menjadi malaikat, sangat sulit. Aku butuh sayap. Sayap yang akan membimbingku menggapai langit.

Jadilah purnama di kala malam.

Jadilah mentari di kala pagi.

Bila aku tersesat, tunjukilah jalan.

Bila aku kelelahan, izinkan aku bersandar pada pundakmu.

Bila aku keras, melunaklah.

Bila aku hilang semangat, cerialah.

Ajaklah aku untuk terus bermimpi. Karenanya hidup akan terasa lebih hidup. Bahkan mimpi gila sekalipun, akan menjadi nyata bila kau menemai. Jangan takut lagi meragu. Keraguan membuat diriku lemah.

 

M-W-M

 

 





Pulang

11 06 2013

“Terkadang kita perlu pergi sangat jauh untuk tau jalan pulang”.

Kata-kata yang terinspirasi setelah menonton film Journey 2 dibintangi oleh The Rock actor gulat WWF. Bercerita tentang perjalanan seorang cucu yang berupaya menemukan kakeknya yang telah berpergian sangat lama untuk menemukan sebuah pulau misterius. Sang kakek tahu cucunya amat pintar, makanya sang kakek mengirimi sebuah kode letak keberadaan dirinya. Kemudian sang cucu berhasil memecahkan kode tersebut dan bertemulah mereka di pulau misterius.

Sebuah pulau bernama PALAU, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Letaknya tidak jauh dari pulau Maluku. Meski ini adalah cerita fiksi tapi aku yakin keberadaan pulau itu ada pada kenyataannya. Karena sebuah ide tidak muncul dengan begitu saja. Pasti ada saksi mata yang melihat wujudnya. Dan dongeng ini diceritakan kembali secara turun temurun. Sehingga sampailah ke telinga kita.

Mendengar adalah proses menangkap gelombang suara. Pesan-pesan verbal yang keluar dari mulut manusia. Pendengar yang baik tentu akan tau maksud dari si pembicara mengatakan hal tersebut. Mendengar merupakan gerbang ilmu pengetahuan. Seperti halnya pulang. Ia adalah kata pembuka menuju rumah. kediaman tempat kita bernaung. Melepas lelah, asa, amarah. Menawarkan ketentraman, hanya di rumahlah kita bisa menjadi siapa diri kita yang sebenarnya.

6  tahun silam, kata pulang hanya menjadi hiasan di dinding hati. Sejatinya jiwaku tak pernah benar-benar pulang. Hanya ragaku lah yang berada di rumah.

Loncat dari satu rumah ke rumah, membuat aku punya banyak rumah singgah. Bila sudah bosan tinggal di rumah kawanku maka aku kunjungi rumah kawanku yang lainnya. Terus-menerus seperti itu sampai kehidupan terus berjalan. Dan kawanku punya kehidupan lain yang harus mereka jalani. Dan aku ditinggalnya. Mereka seperti berlari, tak sanggup aku kejar.

Apakah kehidupan berubah atau aku yang tak berubah?

Sejauh mana tolak ukur untuk menilai sebuah perubahan? Umurkah? Tahunkah? Atau sejatinya kita tak pernah benar-benar berubah?

The world spin very faster. Semakin modern (katanya). Era dimana teknologi berjaya, mungkin ke depannya akan muncul manusia komputerasi. Terintegrasi satu sama lain di bawah naungan satu server. Memudahkan para penguasa mengontrol mereka. Bila ada manusia yang ngaco cukup tekan tombol frezze atau shutdown. Habis perkara. Kejahatan turun dratis. Tapi manusia kehilangan kebebasannya.

Kebebasan memilih merupakan anugerah yang dimiliki oleh manusia. Kehendak bebas yang tidak dimiliki oleh makhluk lain selain kita. Mobil tak pernah tahu untuk apa ia dibuat. Hanya pabriknya lah yang tau untuk apa ia dibuat. Mobil tidak bisa memilih jalan hidupnya, bahkan hewan pun tidak. Tapi manusia bisa. Ia dapat menjadi setengah malaikat,atau menjadi setengah iblis.

Cara kita memandang sesuatu merupakan akumulasi dari sebuah perjalanan hidup yang telah kita tempuh. Kamu saat ini adalah tempaan dari kamu di masa lalu. Ia muncul tidak dengan sendirinya ada variabel-variabel lain yang mempengaruhinya. Manusia dan kehidupan bukan varibel independen tapi dependen. Manusia merupakan kata yang mengandung unsure jamak. Merangkum sebuah kesatuan antara jiwa dan raga. Begitu juga umat, ia juga rangkuman dari ratusan manusia.

Dan aku adalah sample dari satu umat. Butiran debu di jagad raya. Berusaha agar terlihat berkilau dihadapan sang Pencipta.

Kata “pulang” menyimpan sebuah frasa. Rindu. Disebabkan oleh perjalanan yang kita lakukan. Perjalanan hati, bersilaturahmi dengan para makhluk bumi.

Biar tahu bahwa kita tidak sendiri. Memulai kehidupan dari rahim ibu. Kemudian memulai lagi kehidupan dari rahim bumi.

M-W-M





Cinta

11 06 2013

Mengapa seseorang bisa menjadi gila karena cinta? Apakah cinta begitu memabukkan sehingga orang-orang kehilangan akal sehatnya? Atas nama cinta semua cara ditempuh demi mempertahankan rasa cinta. Mengapa harus ada cinta jika cinta hanya menimbulkan kekacauan?

Banyak kisah yang menceritakan betapa kekuatan cinta sungguh luarbiasa. Sebutlah Layla dan Majnun, Romeo dan Juliet, Rama dan Shita. Kisah mereka sungguh menggetarkan. Membuat insan muda terpesona.

Apakah cinta dapat memperpendek jarak? Apakah cinta dapat menundukan waktu? Apakah cinta selalu berakhir duka nestapa. Jika, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan.

Orang bilang cinta datang tanpa undangan. Ia pergi tanpa pamit. Hanya meninggalkan jejak rindu. Apakah itu sebuah eksistensi agar cinta diakui keberadaannya. Ya,rindu!

Rindu yang menggebu. Membuat diri ingin bertemu. Ketika dua hati saling menggenapi perasaan rindu pun luntur. Beranomali menjadi satu.

Kepada yang terkasih. Objek yang kita tuju. Tanpa tujuan apalah gunanya kehidupan. Seperti halnya cinta. Cinta menjadi istimewa karena persembahan. Bukan retorika ataupun bualan semata.

M-W-M





Lingkaran

11 06 2013

Bila dipikir-pikir lucu juga yah cara Tuhan mempertemukan seseorang ke dalam kehidupan kita. Tanpa kita minta Tuhan sediakan orang-orang yang keren untuk kita kenali. Berawal dari sebuah nama lalu saling bertukar cerita kemudian pertemanan terjalin dengan sendirinya. Pertemanan tersebut kemudian semakin kuat disebabkan ada momen-momen yang mengikat. Sehingga pertemanan pun bermetafora menjadi persahabatan. Full of surprise! Life is a gift. We must be thankfull to God. Aku harus akui hal itu.

Membicarakan  manusia tentu tidak akan ada habisnya. Banyak aspek terkait didalamnya. Setiap orang membawa tiga masa pada dirinya. Masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa lalu yang tak pernah kita tau apa yang mereka alami. Masa kini yang bisa kita intip keberadaannya, dilihat dari keseharian dia menjalani kehidupan. Serta masa depan, masa dimana dia dan kita pun tak tau seperti apa kejadiannya. Apakah kita masih tetap berjalan beriringan atau malah berjauhan.

Aku selalu suka bila bertemu dengan orang-orang baru. Banyak cerita-cerita baru yang akan aku dapatkan dari mereka. Entah itu sad story or happy story.  Cerita yang membuat diriku terkadang tergugah sampai terkagum-kagum bila mendengarnya. Selalu ada hal menarik yang dapat aku petik dari cerita tersebut. Hal-hal yang mungkin berguna suatu hari kelak. Semacam preparation untuk menghadapi kehidupan yang akan aku jalani.

Kita tentu tak harus mengalami semua kejadian untuk tau rasanya seperti apa. Kita bisa meminjam mata dan telinga orang lain untuk tau rasanya seperti apa. Yang kita perlukan cukup mendengarkan. Menyimak setiap perkataan sambil berusaha mendapatkan hikmah di balik cerita tersebut. Bukankah Tuhan menciptakan dua buah telinga kepada setiap manusia?

Setiap hari kita berpapasan dengan orang-orang. Orang-orang yang tak pernah kita kenal. Tapi bila kita mau salami ternyata ada beberapa diantara mereka yang kita kenal. Hanya saja kita jarang memperhatikan. Menurut sebuah penelitian, antara kita dan orang lain itu sebenarnya saling mengenal, hanya dipisahkan oleh 3-5 orang. Contohnya gini, kamu kenal sama si A yang bila ditelusuri ternyata si A ini ternyata kenal juga sama teman kamu si D,E dan F. Foila. Dan kamu akan senyum-senyum sendiri bila mengetahui hal itu. Seperti irisan-irisan yang pada akhrinya membentuk lingkaran.

M-W-M








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 389 pengikut lainnya.