Hari sudah siang ketika kami mulai pergi ke sumedang. Target waktu yang dianggarkan molor 2 jam dari yang direncanakan. Walhasil kami pun harus bermacet ria menuju belantara kota. Adalah aku, Ratna, Tiara, dan Yas hari itu sabtu 2 maret 2013 hendak pergi bersilaturahmi dengan gunung Tampomas.
Dengan tenaga yang luarbiasa, Ratna memacu mobilnya diatas kecepatan rata-rata. Ratna sudah mirip Michael Schumacer saja. Salip kanan-kiri tanpa sedikitpun rasa takut. Tepat dipertigaan hendak menuju alun-alun sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi, tanpa ampun motor itu pun mencium bemper mobil Ratna. Bukannya mengais kesakitan, setelah memberdirikan motor, bapa-bapa itu pun pergi. Kami hanya melongo menyaksikan kejadian tersebut dan nyali Ratna pun menciut.
Sebelumnya sudah ada Ajat yang menunggu kedatangan kami di Alun-alun kota Sumedang. Dengan setia tanpa sumpah serapah Ajat tetap di sana, padahal Ajat mempunyai kesempatan untuk pergi kembali ke kosan-nya. Tapi tidak ia lakukan. Ajat remaja tanggung berusia 17 tahun yang sebantar lagi akan menghadapi UN bukannya belajar, dia malah dengan senang hati memandu kami bersilaturahmi dengan gunung Tampomas.
Setelah bertemu Ajat, kami pun lalu makan sambil menenangkan Ratna yang mukanya masih pucat.
Gunung Tampomas memiliki ketinggian 1684 mdpl terletak di kabupaten Sumedang, ada dua jalur untuk menaikinya yaitu Narimbang dan Cibeureum. Kami pun memilih jalur Cibereum karena Ajat hanya hapal jalur itu. Mobil Ratna pun diparkir di rumah Dzikri yang sampai saat ini aku tak tahu wajahnya. Kami hanya disambut oleh bapanya Dzikri.
Setelah pamit. Pendakian kami mulai. Waktu menunjukan pukul 7 malam. Untuk menuju jalur pendakian kami dapat menumpang truk pengangkut pasir. Syahdan, hari sudah malam truk pun jarang lewat menyebabkan kami harus berjalan kaki jauh sekali.
Dua jam berlalu, kami pun tiba di pos satu. Pepohonan pinus menyambut kedatangan kami. Kami pun terus melangkah tanpa lelah. Sampai di pos dua atau tiga kami pun beristirahat. Di pos itu kami bertemu pendaki lain.
Udara dingin membuat perut kami keroncongan. Kami pun memutuskan untuk beristirahat kembali di pos 4 sambil mengisi perut. Ga persis di pos 4 nya seh, karena pos 4 ini terkenal angker. Gunung Tampomas terkenal karena keangkerannya, gunung ini sering di pakai untuk pertapaan. Meminta sesuatu dengan umpan sesajen.
Lepas dari pos 4 kami menuju pos 5. Pos yang membuat badan kepayahan, karena dari sinilah tanjakan sebenarnya dimulai. Ada Sanghyang Taraje dan Sanghyang Tikoro yang harus kami naiki.
Tepat setengah dua kami pun tiba di puncak. Lelah menghinggapi kami, sudah lebih baik tidur saja.
Hembusan angin membangunkan tidur kami. Sungguh, hembusan angin disini sangat kencang sekali. menusuk-nusuk kulit seperti jarum. Selepas matahari terbit, pemandangan dari atas puncak baru terlihat.
Indah sekali kawan! Sayang kamu tidak dapat menyaksikan.
Beberapa gunung terlihat dengan jelasnya, aku tak tahu itu gunung apa karena tak membawa peta. Awan yang imut sesekali tampak tersenyum pada kami. Kota Sumedang terlihat dengan jelas dari sini.
Indah sekali kawan! sayang kamu tidak menyaksikan.
Jam 9 pagi kami jelang. Kami pun memutuskan untuk turun. Menuruni trek yang sangat asik bila menuruninya dengan berlari. Sambil berhenti sejenak di kawah yang katanya sudah tidak aktif lagi.
Jam 14 siang kami jelang. Kami pun sudah di rumahnya dzikri. Yang sampai kami pulang pun kami tak menjumpai batang hidungnya. Setelah pamit dengan bapa dan ibunya dzikri perjalanan kami lanjutkan. Dengan Ajat dibelakang kemudi, Ratna di sampingnya menemai dan kami duduk di jok belakang.
Sebelum Bandung kami jelang, kami pun mampir terlebih dahulu ke warung baso. Dan basonya enak sekali, buatan Tasik ternyata. Sambil menunggu pertandingan Persib berlalu, karena mobil Ratna berplat B.
Hujan mengguyur sepanjang jalan. Kantuk lalu datang bergantian mengelitiki kami. Tapi kantuk tidak mampir ke Ratna, karena sebagai pengemudi ia tidak boleh tidur.
Tak terasa jatinangor sudah kami lalui. Lalu Cibiru kemudian pasar Gedebage. Di Metro Tiara pun turun lalu menaiki taksi melanjutkan ke sangkarnya di Cimahi. Tak lama depan rumahku sudah terlihat, aku dan yas pun turun.
Tinggallah Ratna sendirian melaju pulang ke rumahnya, semoga ia kuat menahan kantuk sendirian dan mudah-mudahan ia hapal jalan pulang ke rumahnya.
Terimakasih untuk trip kali ini. Sampai berjumpa di trip selanjutnya. Dadah!
M-W-M